Timbul Tenggelam..

Taraa muncul lagi setelah lama menghilang..

iya lama…lama banget, kebangetan, kelamaan hihihi..tapi ga apa, untung sekarang inget, jadi tak ulik2 lagi ini blog, dibersiih dikit2, semoga kinclong lagi, berkibar lagi, berjaya lagi, bersih bersinar,lebih bermanfaat  pula. hidup indonesia…

mau cerita bbrpa tahun lalu itu emang lagi galau2nya, pusing2 nya. tp sekarang alhamdulillah sudah terlewati, sudah pulih, dan insyaAllah lebih baik, lebih happy..dannn bersyukur..

lama ngilang, ternyata banyak yg sudah aku capai. sukses kah? tergantung cara menyikapinya. yg pasti sudah sukses melewati masa2 berat itu, sesuatu yaa..dulu rasanya pengen nyari lubang kaya kelinci, diem di kolong tanah aja, ngumpet dari keramaian, sekali2 ngintip keluar. eh sekarang mah diluar lebih indah ternyatahh..huhahh

kuliah udah beres, lalu pulkam ke bandung, sempet ngajar, eh lalu milih kerja jadi ibu banker stelah hijrah dari ibukota jakarta.  yeahh ga ada yg seindah dan senyaman kota ini. ekekke.. konon katanya orang sunda mah makan harus makan asal kumpul. ehhh..dan sekarang udah punya suami, udah punya anak yang lucu nya pake bangett , totally jadi ibu rumah tangga (jadi guru nya masih terpending ,karna anak..alasan klasik tapi nyata tapi emang iya ya emang anak prioritas hehe) , yang pasti jadi bisnis women..ahiww bahasanya gaya pisann…hehee nanti dikasi tau dehh yaaa…

segitu dulu aja buat memulai belajar menjadi blogger handal, besok2 posting2 lagi..bye byee fever.. 😁😁😁

Termasuk yang mana kah kita?

Dalam bukunya Who Move My Cheese, Spencer Johnson bercerita tentang dua ekor tikus ( Sniff dan Scurry) dan dua kurcaci (Hem dan Haw)  yang tinggal didalam sebuah labirin yang penuh dengan keju. Sang Tikus sering berpikiran  suatu hari kelak keju ditempat mereka tinggal akan habis. Karena itu, dia selalu menjaga stamina dan kesadarannya agar jika keju disitu habis, dia dalam kondisi siap mencari keju ditempat lain. Sebaliknya, kurcaci begitu yakin sampai kiamatpun persediaan keju tidak akan pernah habis.

Setiap hari kedua tikus mengendus, menggaruk, serta bolak-balik menjelajahi labirin sambil memeriksa apakah ada perubahan dibandingkan dengan kemarin. Suatu pagi mereka tidak menemukan keju dan mereka tidak heran, karena mereka telah memperhatikan bahwa dari hari ke hari persediaan keju telah menipis setiap harinya. Mereka tahu apa yang harus mereka perbuat, yaitu segera mencari keju ditempat lain. Sebaliknya ketika kurcaci tidak menemukan keju sebagaimana biasanya ditempatnya, mereka sangat terkejut. “Apa! Mana kejunya? Siapa sih yang mindahin kejuku. kembalikan kejuku donk! Mereka berseru sambil marah-marah. Kedua kurcaci ini tidak tahu harus berbuat apa. Mereka berdiri saja mematung. Salah satu kurcaci (Haw) menyarankan  “mungkin sebaiknya kita berhenti menganalisa situasinya dan pergi saja mencari keju baru.” Tapi Hem tidak setuju “pokoknya aku akan menyelidikinya hingga tuntas”. Maka hari-hari selanjutnya, kedua kurcaci ini terus ketempat biasanya dan tidak menemukan lagi keju disana. Haw mulai menyadari bahwa semakin lama mereka tinggal disituasi tanpa keju, semakin parah jadinya. Haw tidak senang membayangkan harus bekerja keras mencari keju baru. Dia takut tersesat dan tidak tahu arah. Hem berkata kepada Haw “kita tunggu saja hingga seseorang kembalikan kejunya.”

Para kurcaci berfikir seseorang mencuri kejunya, akhirnya Haw mulai menyadari tidak mungkin bertahan terus dengan keadaan mereka saat ini, dan mulai mencari keju baru. Pikirannya dipenuhi kekuatiran bagaimana harus menemukan keju ditempat lain. Tapi mau tidak mau mereka harus mencari keju lain, akhirnya Haw dengan susah payah bisa menemukan keju lainnya dan bergabung dengan Sniff dan Scurry yang telah bergabung terlebih dahulu disana menikmati banyak keju baru. Bagaimana dengan nasib Hem…?

Jadi, Siapakah kita menurut cerita di atas???

Sniff dan Scurry – yang mencium, mengantisipasi perubahan dan bergegas mengambil tindakan.
Haw – yang pada awalnya enggan berubah tetapi pada akhirnya menyadari bahwa harus ikut perubahan yang terjadi disekelilingnya.
Hem – yang marah terhadap perubahan dan menganggapnya tidak adil.
Who Move My Cheese? adalah cerita tentang perubahan yang terjadi pada suatu tempat dengan lorong-lorong yang ruwet di mana empat karakter mencari “keju” – keju ini adalah metafora tentang apa yang kita inginkan dalam hidup: pekerjaan, hubungan dengan orang yang kita cintai, uang, rumah besar, kebebasan, kesehatan, pengakuan, jabatan, Ilmu atau kedamaian hati, misalnya. Setiap kita boleh punya bayangan tentang apa itu “keju” yang kita anggap patut kita dapat dan bisa membuat kita Sukses dan Mulia.

Lingkungan berubah, keadaan berubah, dan kita pun dituntut untuk berubah dan melakukan perubahan.

*dikutip dari tulisan rekan kerja*

 

Tak ada kata gagal!!!

“kaka..hari ini aku ga mau diganggu, mau diem di rumah aja”
Lho kenapa de?
“dompet jualan aku ilang. Semuanya harus dimulai dari nol lagi. Kenapa ya ka, kadang dalam beberapa hal aku tak seberuntung.orang lain. Seperti nilai ipk aku yg selalu ga memuaskan, padahal aku udah belajar mati2an dibanding yang lain yang biasa saja dan nilainya selalu bagus. Lalu, sekarang aku turuti kata org tua, kuliah S2 yang sebetulnya passion aku bukan disitu,berat jalani tugas yang menggunung. Pernah diselingkuhin sama pacar,dan sampai saat ini blm ada yang bisa jd pasangan.Masa muda aku yang kurang berwarna sperti anak muda lainnya, ga ada penyemangat”
Kira2 begitulah curhat sahabat saya..
Yup..kadang maunya kita menyerah ketika dihadapkan pada sebuah kondisi yang kurang mengenakan. Kondisi yang dirasa kurang adil bagi mereka yg berusaha dengan baik. Kegagalan demi kegagalan yang lebih sering dialami, itu karena kita banyak mencoba, ada usaha.
Begitupun dengan saya yang sering merasa gagal dalam beberapa bidang, kehidupan, salah jurusan, kisah cinta, karier, dll. Minder iya, kadang putus asa, tapi kembali sadar, karena Allah ga suka sama hambanya yang berputus asa bukan?? hal itu mungkin jalan menuju kesuksesan dan keadaan yang lebih baik. Semakin belajar dan banyak belajar.
Seperti dikutip dalam bukunya john c.maxwell, kegagalan bukanlah batu sandungan, tetapi kegagalan adalah batu loncatan dan kita harus bangkit.
Yang dibutuhkan kadang diam sejenak, menghirup nafas, menganalisa kegagalan tersebut. Dan kemudian bangkit lagi, coba lagi.
“90 % dari mereka yang gagal, bukanlah mereka yang kalah, hanya saja mereka mudah menyerah.~Paul.J.Welker ”
Percayalah sobat, hal indah di depan sana. Hanya saja, untuk mencapai puncak gunung, kita.perlu mendaki dengan tekun dan sabar. Ada hal indah di atas sana”
Kita bukanlah orang gagal de,,, hanya saja belum sukses. Hehehe
Semangatttttt !!!!

Antara ibukota dan kota ini

Saya adalah tipe orang yang tidak mudah memutuskan sesuatu, apabila dihadapkan pada 2 pilihan, biasanya lama sekali dlm berfikir dan membuat satu pilihan.
Seperti yang saya alami kemarin, antara melangkahkan kaki lagi ke ibukota dengan kesempatan di depan mata dan berharap segalanya lebih baik, atau harus tetap berada di kota ini, menjalani apa yang ada, memaksimalkan usaha dan doa seraya bersabar. Ahh entahlah…
Akhirnya musyawarah pun di mulai. Orang tua berperan penuh akan itu, yup karena saya adalah tanggung jawab beliau. Dekat dengan orang tua berarti dapat berperan banyak, memperhatikan.kesehariannya, berbakti. Bila jauh, mungkin jalan sukses, mandiri, pun siapa tau bertemu jodoh.hehehe
Ternyata tidak mudah memutuskan perkara2, yang mungkin sederhana tapi sebetulnya menentukan kehidupan jangka panjang. Allah maha benar, maka kenapa ada solat istikharah, untuk urusan jodoh atau apapun itu dalam memutuskan sesuatu, itu karena supaya tidak salah dalam memilih, menentukan mana yang terbaik untuk hidup ini. Tawakal memohom perunjukNya.
Hati-hati dalam melangkah, jangan terburu2 karena yang terburu2 adalah langkahnya syaitan.
Mohon yang terbaik yaa Rabb..:)

Mereka, Tanggung jawab siapa?

Minggu yang indah…walo pagi hingga siang sedikit mendung, tak menghalangi niat saya untuk mengikuti kajian mingguan,,pulangnya sekedar mampir di gramed, kuliner, dan kmudian ke pasar baru..sendiri..seperti biasa.
Sepanjang jalan hingga sampai di rumah, bbrpa ditemui orang gila,ada hampir 5 orang..hiiyyy tak sadar saya bergidik. Yap, memang hampir tiap hari saya menemui mereka, dengan lusuh, gimbal dan bbrpa tanpa pakaian. Masya Allah…kasian.
Lantas saya berfikir, siapa yg seharusnya bertanggung jawab atas mereka? Keluarga kah? Yup tentu,bila mereka msh berada dilingkungan keluarganya. Lalu bila sudah berkeliaran di jalanan, tanpa rumah, tanpa makanan, dengan kesakitan tanpa kesadaran, dan bahkan pernah salah satu dr mrka saya temui seperti hampir meninggal di pinggir jalan, lalu beberapa mengganggu manusia sehat dan membuatnya ketakutan, siapakah yah berhak bertanggung jawab atas mereka? Dinas sosial kah? Atau..ada pihak2 yang khusus menanganinya?
Bukankah mereka masih termasuk warga negara indonesia???
Semoga tidak semakin bertambah orang2 sakit tidak sadar sperti mereka yg berkeliaran di jalanan, maklum lah..kesejahteraan indonesia yang tidak merata,himpitan ekonomi dan kesulitan lainnya yang mungkin menjadi alasan mereka menjadi seperti itu….. 😀 wallohualam…

Sinar Harapan

Menjadi seorang pendidik itu adalah sebuah profesi mulia yg menuntut penuh kesabaran. Tak mudah setiap kali membimbing anak2  penerus bangsa ini dengan latar belakang yg berbeda dan pola asuh yang tak sama dari keluarganya. Tapi sungguh,, ada kepuasan tersendiri menjalaninya. Semangat 45 ketika akan bertemu mereka, mengajarkan fisika dan biologi sambil menyempurnakan cara menyampaikan yg baik dan mudah dipahami, sapaan dan senda gurau mereka pada gurunya, walo kadang ada saja yg sedikit menjengkelkan, salam dan cium tangan, sebuah apresiasi yg tak terhingga untuk profesi ini, walo tak dihargai oleh pemerintah, dengan status tenaga honorer, dan entah akan harus sabar terus menunggu gaji yang layak, untungnya masih banyak teman2 disana yang mulia dan penuh kesabaran menjalaninya. Ahh…andai pemerintah peduli dengan guru yg menjadi tonggak keberhasilan masa depan penerus bangsa ini,,andai koruptor2 itu peduli akan secuil hati rakyat yg justru memperjuangkan kemajuan negri ini nantinya. Andai..banyak orang yang peduli dan dewan2 diatas sana memperjuangkan memikirkan keberhasilan pendidikan indonesia…

adik-adik pengantar syukur

berada di tempat yang sekarang ini adalah bukan tanpa rencana, bukan sebuah kebetulan, tapi pasti Tuhan sudah mengaturnya dengan apik, dengan rapih. rencananya sungguh teratur dan berurutan..

beberapa bulan yang lalu saya diberi kesempatan untuk mengisi acara pelatihan dari tempat saya bekerja di sebuah dinas sosial di ibukota. pesertanya kurang lebih ada 30 orang anak usia smp-sma, mereka adalah anak-anak boleh dibilang kurang beruntung, anak-anak putus sekolah yang punya semangat tinggi untuk belajar. didatangkan dari kota-kota kecil diluar sana, di bina di rumah asuh yang disediakan oleh dinsos, dengan 1 rumah asuh diisi oleh 1 orangtua asuh ( beserta keluarganya) dan kira-kira berisi 5-6 orang anak asuh. mereka dididik selama 6 bulan, difasilitasi oleh negara, biaya sehari-hari yang konon katanya , jatah yang mereka terima tidak sesuai dengan dana anggaran dari pemerintah karena melewati beberapa anak tangga “”, dan fasilitas pembelajaran yang diberikan setiap harinya untuk bekal mereka nantinya.

acara dimulai dari jam 10. saya datang bersama beberapa rekan saya, kebetulan pengisi training nya adalah 3 orang dari team saya yaitu technical center, termasuk saya, dan beberapa rekan dari cs pomotion.

dari materi yang kami berikan, terlihat antusias yang luar biasa dari adik-adik tersebut, apalagi pas kegiatan prakteknya,, waw banget. sungguh semangat mereka, keingintahuan mereka itu patut diacungi jempol. adik-adik yang penuh pengharapan, penerus bangsa yang harusnya memiliki hak yang sama mengenyam bangku pendidikan.

asekilas memori saya flashback mengingat kembali beberapa tahun silam disaat saya sedang duduk di bangku sekolah kejuruan teknik, mungkin dulu tak pernah terbayang bahwa betapa beruntungnya saya kala itu, bisa mencicipi bangku sekolah dengan baik walaupun dalam keadaan yang sederhana, sampai di waktu yang sekarang ini..

1452458_236368163206154_688864235_n

adik-adik,,semoga ilmunya bermanfaat, semoga menjadi bekal untuk kehidupan yang lebih baik nantinya. semoga terus semangat, sesulit apapun keadaan.

ahhh..ternyata banyak cara untuk bersyukur. dengan pengalaman- pengalaman yang saya dapatkan, betapa bersyukur diberikan kesempatan bertemu mereka, betapa bersyukur mengenyam pendidikan yang baik, betapa bersyukur orang tua memperjuangkan pendidikan saya sampai tingkat sekolah menengah atas, dan betapa bersyukur, saya pun bisa menyelesaikan kuliah saya yang 4 tahun hasil perjuangan saya dan bantuan seseorang.

betapa bersyukur bisa bernafas hingga detik ini, betapa bersyukur atas segala rejeki. segala nikmat sehat, segala nikmat yang Tuhan berikan yang tidak bisa dijabarkan satu persatu..

“melihat ke bawah untuk selalu bersyukur, melihat ke atas untuk semangat lebih maju”

*ditengah hiruk pikuk kasus ratu atut, contoh keserakahan karena kurangnya kebersyukuran. wallohualam…